Analisis
Kalyanamitra: Selalu, Kepentingan Perempuan Tidak Diprioritaskan

Kalyanamitra: Selalu, Kepentingan Perempuan Tidak Diprioritaskan


Oleh Listyowati Kalyanamitra | Kamis, 01 November 2018 12:44 WIB | 188 Views

Sejak 21 September 2018, situs web Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengunggah informasi hasil pengundian nomor urut capres dan cawapres yang akan berkompetisi pada Pemilu 2019 beserta visi misinya. Dari rumusan visi misi capres yang disetorkan oleh kedua pasangan capres dan cawapres, tidak ada satupun yang secara spesifik bicara tentang program-program pemenuhan hak-hak perempuan.

Penggunaan wacana ‘emak-emak’ yang berkembang saat ini di dalam masa kampanye, dapat dikatakan cenderung mengasosiasikan posisi dan peran perempuan dalam rumah tangga yang dikaitkan dengan kondisi dan situasi perekonomian Indonesia yang tidak menentu. Perempuan di rumah tangga memang menjadi pihak yang utama terdampak dari kondisi ekonomi yang sulit sehingga perempuan harus memutar otak lebih ekstra agar kebutuhan keluarga sehari-hari dapat tercukupi.

Sayangnya, wacana yang dibangun tersebut tidak dibarengi dengan mengangkatnya dalam rumusan visi misi capres dan cawapres. Ini menunjukan bahwa perempuan dan kepentingannya hanya dijadikan sebagai objek politik untuk mengiring opini adanya keberpihakan terhadap persoalan perempuan, yang pada akhirnya hanya strategi untuk menarik suara perempuan. Persoalan riil yang dihadapi perempuan di akar rumput justru tidak dijadikan salah satu fokus dalam visi misi capres dan cawapres.

Indonesia saat ini masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan seperti masih tingginya angka kematian ibu yang mencapai 305/100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2015), angka perkawinan anak yang mencapai 25,71% (BPS, 2017), angka kekerasan seksual yang mencapai  2.670 kasus di  ranah publik/komunitas dan 2.979 kasus di ranah privat/personal (Catahu Komnas Perempuan, 2018), serta persoalan lainnya di berbagai sektor yang darurat untuk diselesaikan. Rupanya kedaruratan persoalan tersebut tidak menjadi perhatian kedua capres dan cawapres dan lingkaran tim suksesnya. Sekali lagi, ini membuktikan bahwa isu hak-hak perempuan selalu tidak diprioritaskan dalam pembangunan.

Persoalan perempuan hanya dipolitisasi oleh capres dan cawapres untuk kepentingan pemenangan suara dalam Pemilu 2019, tanpa diberikan perhatian khusus untuk diatasi. Jika memang disadari oleh capres dan cawapres bahwa perempuan memiliki kekuatan untuk bersuara lantang mengemukakan persoalannya, seharusnya perlu disadari juga bahwa kepentingan perempuan harus diutamakan. Penyelesaian persoalan perempuan harus konkrit diangkat dan dibahas sejak dari perumusan dan perencanaan sampai pada realisasi dengan melibatkan perempuan di dalamnya, tidak melulu dengan baksos (bakti sosial) atau seremonial lainnya. Selain itu, penyelesaiannya juga harus holistik mulai dari kebijakan, program, anggaran, dan terkait konteks  ini memasukanya dalam visi misi capres dan cawapres untuk lima tahun ke depan menjadi krusial untuk dilakukan.

Sumber foto: https://www.radarjogja.co.id/2015/03/05/getol-perjuangkan-ruu-kekerasan-seksual/







analisis Lainnya