Analisis
Menuju Dua Bulan Kampanye Pilpres, Media Sosial Belum Bebas dari Hoax

Menuju Dua Bulan Kampanye Pilpres, Media Sosial Belum Bebas dari Hoax


Oleh Firdaus Cahyadi | Selasa, 13 November 2018 11:41 WIB | 215 Views

Menjelang dua bulan masa kampanye pilpres, ternyata tidak menyebabkan penyebaran berita palsu berhenti beredar di media sosial. Baru-baru ini beredar banyak di media sosial mengenai hasil survei pilpres di Indonesia barat. Hasil survei pilpres itu dikirim oleh akun yang menamakan dirinya, Bang Unus di Group Gerakan 2019 Ganti President (https://www.facebook.com/photo.php?fbid=153488115615337&set=gm.1220331654791285&type=3&theater&ifg=1).

Dalam survei pilpres yang beredar di media sosial tersebut terungkap bahwa pasangan Prabowo-Sandi unggul telak atas pasangan Jokowi-Ma'ruf. Dari hasil surveinya, secara jelas nampak bahwa hasil survei pilpres itu hoax atau palsu. Darimana mengetahuinya?

Pertama, hasil survei itu tak jelas, siapa lembaga survei yang telah melakukannya. Tanpa kejelasan lembaga mana yang -melakukan survei, sulit dibuktikan bahwa survei itu benar-benar dilakukan.

Kedua, hasil survei itu juga tidak jelas, kapan survei itu dilakukan. Jika survei yang kredibel, akan menginformasikan kapan kegiatan itu dilakukan dan juga di kota mana saja. 

Ketiga, hasil survei itu tidak menginformasikan bagaimana metode survei dilakukan. Tidak jelas pula margin error dari survei tersebut. Sebuah survei menggunakan metode-metode pengambilan sempel yang bisa diukur dan dipertanggungjawabkan secara statistik. Jadi jika metodenya tidak jelas hampir dapat dipastikan survei itu hoax.

Keempat, dalam hasil survei itu terdapat angka yang ganjil di wilayah Lampung. Dalam hasil survei itu ditulis pasangan Prabowo-Sandiaga memperoleh suara 83% sementara Jokowi-Ma'ruf memperoleh angka 27%. Jadi bila dijumlah, hasilnya lebih dari 100%.

Di pilpres 2014 lalu, kita pernah punya pengalaman yang buruk terkait hasil survei ini. Saat itu pasangan Prabowo-Hatta mengklaim dirinya memenangi pilpres 2014 berdasarkan hasil hitung cepat versi lembaga survei tertentu. Faktanya, kemudian menurut mayoritas lembaga survei dan diperkuat oleh hasil perhitungan KPU, menunjukan bahwa pasangan Jokowi-Jusuf Kalla yang menang dalam pilpres tersebut. Meskipun pada akhirnya menerima keputusan KPU, tapi kegaduhan akibat hasil survei yang tidak jelas itu telah terjadi. Pertanyaan berikutnya adalah, apakah di pilpres 2019, kita akan mengulang kegaduhan seperti pada pilpres 2014 akibat sebuah hasil hitung cepat yang tidak jelas? 







analisis Lainnya