Analisis
ICW: Sosmed dan Debat Kusir ala Capres

ICW: Sosmed dan Debat Kusir ala Capres


Oleh Donal Fariz | Kamis, 15 November 2018 10:06 WIB | 92 Views

Apa tema  utama perdebatan  pasangan calon Presiden 2019 beserta tim sukses mereka ? Sebagian masyarakat mungkin akan mengerutkan kening saat menerima pertanyaan ini. Tidak mengherankan sebab hampir setiap hari berbagai diskursus dalam sosial media mengubah pola pemberitaan di media konvensional.  Alhasil pemilih menjadi “mabuk” dengan berbagai pemberitaan yang silih berganti begitu cepat.  Sehingga masyarakat dan pemilih tidak lagi bisa membedakan isu prioritas masing-masing kandidat.
Harus diakui, tumbuh pesatnya sosial media menciptakan distorsi  dalam arus pemberitaan.  Sekalipun tentunya juga banyak sisi positif yang ditimbulkan semisal informasi tidak lagi dikontrol oleh elit berkuasa atau bahkan meja redaksi semata. Sekarang ini era-nya media sosial leading dalam pemberitaan yang membuat media-media online dan konvensional cenderung menjadi followers
Alhasil memproduksi sebuah content-isu menjadi mudah dan sangat cepat. Perubahannya Tidak lagi berganti dalam hitungan hari, bahkan sekarang menjadi hitungan menit dan jam.
Jika dikaitkan dengan pemilu presiden, rotasi cepat dalam pemberitaan membawa dampak negative yang berakibat menimbulkan kedangkalan informasi.  Debat kandidat dan tim juru bicara berkutat kepada hal yang dangkal dan cenderung tidak substantive. Bahkan lari jauh dari perdebatan program kerja, visi dan misi kandidat.
Tengok saja pemberitaan di sosial medi dan media online yang terekam saat ini  berkutat soal topic “tempe sebesar kartu ATM” yang dilemparkan Cawapres Sandiaga Uno. Pihak kubu seberang juga diramaikan dengan sindiran politisi  “sontoloyo” yang kemudian menjadi perbincangan yang cukup viral karena disampaikan oleh incumbent, Presiden Joko Widodo.
Tema lain yang juga ramai terkait dengan janji politik Prabowo yang tidak akan mengimpor apapun kalau terpilih menjadi Presiden. Tak tinggal diam, kubu Jokowi merespon wacana tersebut dengan sebuah satire terkait Kuda Mahal Prabowo yang ternyata juga produk impor.
Lalu bagaimana dengan isu hukum dan pemberantasan korupsi? Dalam Kubu Prabowo mengumbar janji akan menuntaskan kasus penyiraman terhadap Penyidik KPK, Novel Baswedan akan tuntas dalam waktu 3 bulan saja.  Namun mereka tidak menyinggung masalah fundamental bagaimana upaya melakukan reformasi lembaga penegakan hukum.
Pada saat yang sama, kubu Jokowi cenderung menghindar untuk merespon isu-isu berkaitan hukum dan pemberantasan korupsi. Karena memang disadari topic ini menjadi salah satu kelemahannya selama memimpin hampir satu periode. Alhasil, tim sukses memainkan jurus silat dengan menjanjikan hal ini akan menjadi prioritas agenda periode kedua jika terpilih kembali.
Pada akhirnya, perang opini dan debat kusir ala kandidat dan tim sukses telah membuat ruang publik (baca-media) telah disesakkan dengan obrolan nge-pop yang jauh dari kedalaman analisis untuk menggali visi, misi dan program kerja masing-masing kandidat. Evaluasi pemerintahan dan analisis mendalam seolah telah kehilangan panggung.
***
 
Donal Fariz
Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW







analisis Lainnya