Analisis
Kampanye Capres di Media Sosial: Debat Kusir Isu Ekonomi

Kampanye Capres di Media Sosial: Debat Kusir Isu Ekonomi


Oleh Firdaus Cahyadi | Senin, 17 Desember 2018 09:00 WIB | 90 Views

Isu ekonomi adalah isu yang mendominasi kampanye masing-masing capres di media sosial.  Menurut pantauan SatuDunia (www.iklancapres.id), pasangan Prabowo-Sandiaga Uno masih mendominasi  mengangkat isu ekonomi dalam kampanyenya. Tim pasangan Prabowo-Sandiaga Uno hingga tanggal 10 Desember 2018 telah mengangkat isu ekonomi dalam kampanyenya sebanyak 206 kali. Sementara tim pasangan Jokowi-Ma’ruf hanya 75 kali mengangkat isu ekonomi dalam kampanyenya di media sosial.

Seperti biasa, pasangan calon (paslon) nomor 02 megkampanyekan bahwa harga kebutuhan pokok di tingkat masyarakat tidak stabil. Kemudian mengumbar janji jika berkuasa akan menjadikan harga-harga kebutuhan pokok menjadi stabil. Di sektor ekonomi makro paslon nomor 02 juga menyoroti impor pemerintah yang tidak seimbang dengan ekspor. Paslon ini juga berjanji bahwa jika mereka menang dalam pilpres akan melahirkan kebijakan pemberantasan mafia impor yang ditengrai menjadi penyebab meningkatnya impor Indonesia.

Namun, sayangnya paslon nomor 02 hanya menyuguhi publik berbagai persoalan ekonomi dan janji akan menyelesaikan persoalan itu jika menang dalam pilpres 2019. Paslon 02 tidak memaparkan kebijakan apa yang akan dikeluarkan atau diubah untuk mengatasi berbagai persoalan ekonomi tersebut. 

Bagaimana dengan paslon nomor 01? Hampir mirip dengan paslon nomor 02. Bedanya, paslon nomor 01, berkampanye di media sosial bahwa mereka sudah bekerja keras mewujudkan keadilan dan kesejahteraan ekonomi. Pembangunan infrastruktur yang marak selama Presiden Jokowi berkuasa diklaim sebagai salah satu buktinya. Seperti paslon nomor 02, paslon nomor 01 ini juga tidak mengemukakan kendala apa yang membuat berbagai keberhasilan pembangunan belum mampu merubah struktur penguasaan sumberdaya ekonomi yang masih timpang di Indonesia

Tidak diungkapkannya kendala kebijakan atau teknis yang menyebabkan ketimpangan ekonomi masih berlangsung meskipun pembangunan infrastruktur sudah dilakukan menyebabkan publik juga tidak mengetahui kebijakan apa yang akan diambil atau dirubah bila paslon 02 yang terpilih menjadi presiden.

Ketidakjelasan kebijakan apa yang akan diubah oleh masing-masing paslon menyebabkan tidak ada perdebatan ekonomi yang substantif di media sosial terkait dengan kampanye masing-masing paslon. Perdebatan yang muncul di media sosial seperti sebuah debat kusir yang bukan saja tidak berujung tapi juga tidak mencerdaskan publik secara politik. Bagaimana tidak, perdebatan mereka hanya seputar klaim bukan tentang kebijakan ekonomi apa yang akan diubah atau diperbaruhi. 

Sumber gambar: https://www.kanalinfo.web.id/2016/03/pengertian-istilah-debat-kusir.html







analisis Lainnya