Analisis
Menyoal Komitmen para Tim Pemenangan Capres 2019 terhadap Kampanye Anti-Hoax

Menyoal Komitmen para Tim Pemenangan Capres 2019 terhadap Kampanye Anti-Hoax


Oleh Firdaus Cahyadi | Senin, 14 Januari 2019 09:27 WIB | 160 Views

Hoax menjelang pilpres 2019 ternyata terus terjadi. Kasus hoax Ratna Sarumpaet adalah salah satu contohnya. Hoax tersebut  mengarahkan opini publik bahwa penganiayaan Ratna Sarumpaet terjadi terkait dengan aktivitasnya yang sering mengkritik pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kebetulan pada pilpres 2019, Jokowi maju kembali menjadi calon presiden.

Hoax berikutya adalah terkait surat suara yang sudah tercoblos di Tanjung Priok. Hoax itu sempat menghebohkan karena berpotensi medelegitimasi KPU sebagai penyelenggara pemilu. 

Mungkinkah kampanye pilpres 2019 terbebas dari hoax? Untuk menjawabnya, marilah kita telisik jenis-jenis hoax terlebih dahulu.

Hoax’ atau ‘fake news’ bukan sesuatu yang baru, dan sudah banyak beredar sejak Johannes Gutenberg menciptakan mesin cetak pada tahun 1439. Sebelum era internet hoax sangat sulit diverifikasi. Kerusuhan yang berdarah-darah tak jarang terjadi akibat hoax yang berkembang di masyarakat. Kini di era internat hoax mudah diidentifikasi. Namun meskipun begitu di era internet ini pula hoax mudah tersebar secara cepat.

Setidaknya ada tiga jenis hoax (Sketsatorial: Apa itu hoax dan bagaimana cara kita menyikapinya?  https://www.rappler.com/indonesia/ayo-indonesia/181912-sketsatorial-apa-itu-hoax) . Ketiga jenis hoax itu antara lain adalah sebagai berikut:
Hoax proper
Hoax dalam definisi termurninya adalah berita bohong yang dibuat secara sengaja. Pembuatnya tahu bahwa berita itu bohong dan bermaksud untuk menipu orang dengan beritanya.
Judul heboh tapi berbeda dengan isi berita
Kebiasaan buruk banyak netizen adalah hanya membaca headline berita tanpa membaca isinya. Banyak beredar artikel yang isinya benar tapi diberi judul yang heboh dan provokatif yang sebenarnya tidak sama dengan isi artikelnya.
Berita benar dalam konteks menyesatkan
Kadang-kadang berita benar yang sudah lama diterbitkan bisa beredar lagi di sosial media. Ini membuat kesan bahwa berita itu baru terjadi dan bisa menyesatkan orang yang tidak mengecek kembali tanggalnya.
Di awal tahun ini, tepatnya pada tanggal 12 Januari 2019, pengguna media sosial, twitter dihebohkan dengan kicauan akun di twitter yang menamakan dirinya @Ferdinand_Haean. Menurut akun twitter tersebut, ia adalah Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat.  Dalam twitternya ia menuliskan, "Melihat foto peristiwa pagi ini, para Mujahid dan Mujahidah 212 berkumpul, saya harus katakan bahwa @jokowi sudah selesai. Biarkan 1000 alumni membuatmu menari2, tapi Jutaan kami akan mengirimmu pulang. Saatnya @prabowo memimpin utk memperbaiki kerusakan yg sdh terjadi". Dalam twitternya itu ia juga menyertakan ribuan orang yang sedang berdemonstrasi. Setelah ditelusuri ribuan orang itu adalah massa demonstran pada kasus Ahok di pilkada DKI Jakarta.

Ketika para pengguna media sosial lainnya mengatakan bahwa akun @Ferdinand_Haean sedang menyebar hoax, pemilik akun tersebut menjawabnya, "Sy pikir yunarto ini pintar ternyata tidak bangat. Menalar kalimat sy ttg MELIHAT FOTO PERISTIWA PAGI INI sj tak mampu. Sy jelaskan ya biar km ngerti. Saya melihat sebuah foto peristiwa mujahid dan mujahidah berkumpul pagi hari. Sy tdk menyebut itu peristiwa di solo. Duh to.!"

Nah, pertanyaan berikutnya adalah apakah foto usang beserta kicauannya akun @Ferdinand_Haean yang sempat menghebohkan media sosial itu termasuk hoax? Jika mengacu pada jenis-jenis hoax seperti ditulis di 'Sketsatorial: Apa itu hoax dan bagaimana cara kita menyikapinya?', dapat dikatakan postingan akun yang menamakan dirinya @Ferdinand_Haean masuk dalam kategori hoax ke-3 (Berita benar dalam konteks menyesatkan). Berita atau foto benar yang sudah lama diterbitkan diedarkan lagi di sosial media. Ini membuat kesan bahwa berita itu baru terjadi dan bisa menyesatkan orang yang tidak mengecek kembali tanggalnya.

Melihat begitu masifnya hoax dalam kampanye jelang pilpres 2019, kita menjadi bertanya-tanya, apakah para tim sukses sengaja membiarkan peredaran hoax tersebut?


 
 







analisis Lainnya