Analisis
Kalyanamitra: Pentingnya Pengarusutamaan Gender dalam Materi Debat

Kalyanamitra: Pentingnya Pengarusutamaan Gender dalam Materi Debat


Oleh Kalyanamitra | Selasa, 15 Januari 2019 13:45 WIB | 175 Views

Kampanye Pilpres 2019 memasuki babak baru yakni menguji ketajaman Capres dan Cawapres dalam menerjemahkan visi, misi, dan program yang diusung melalui debat Capres Cawapres. Sejatinya, debat tersebut menjadi ajang bagi kedua pasangan untuk mendaratkan visi, misi, dan programnya ke dalam program aksi nyata sehingga dapat dipahami oleh masyarakat. Harapannya masyarakat mendapatkan informasi dan  pengetahuan mengenai program-program yang ditawarkan para kandidat sehingga
 
Berdasarkan hasil rapat koordinasi untuk persiapan debat Capres dan Cawapres Pemilu 2019 yang dirilis laman kpu.go.id pada 19 Desember 2018 menyatakan bahwa debat akan dilakukan lima kali dan disiarkan di berbagai televisi nasional yang ditunjuk. Adapun tema debat pertama mengenai hukum, HAM, korupsi, dan terorisme; debat kedua, mengenai energi dan pangan, SDA dan lingkungan hidup, infrastruktur; debat ketiga pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan kebudayaan; debat keempat mengenai ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, hubungan internasional; serta debat kelima mengenai ekonomi dan kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi, perdagangan dan industri.
 
Jika kita cermati dalam proses debat capres cawapres pada periode pemilu 2014, isu perempuan belum menjadi prioritas pembahasan. Materi debat masih lebih mengutamakan bicara pembangunan yang bersifat nonmanusia dan sementara pembangunan manusia terutama perempuan belum menjadi prioritas. Maka sangat direkomendasikan bahwa  materi debat nantinya isu gender dapat menjadi arus utama dalam setiap tema yang diangkat. Hal ini sekaligus menjadi momentum bagi kedua kandidat untuk memberikan penajaman perspektif gender dalam visi, misi, dan program capres cawapres, karena visi dan misi yang ditawarkan kandidat saat ini sangat miskin perspektif gender. Maka dari itu, sangat penting masyarakat mengetahui bagaimana para kandidat ini keberpihakannnya pada isu hak-hak perempuan. Seperti isu tingginya angka perkawinan anak, tingginya angka kematian ibu, kesempatan pendidikan perempuan yang masih rendah, diskriminasi upah terhadap pekerja perempuan dan isu diskriminasi terhadap perempuan lainnya. Hal ini sangat terkait erat dengan komitmen Indonesia menuju Gender Equality Planet 50:50 serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs.
 
Debat pertama bertema hukum, HAM, korupsi, dan terorisme diagendakan dilakukan pada 17 Januari 2019 juga tidak luput mengangkat persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kelompok marjinal, misalnya kelompok perempuan. Perempuan menjadi salah satu pihak yang terkena dampal besar atas persoalan terkait hukum, HAM, korupsi, dan terorisme. Namun di sisi lain juga perlu diangkat ke permukaan bagaimana perempuan memiliki peran dan kontribusi penting dalam penyelesaian kasus-kasus yang berkaitan dengan hukum, HAM, korupsi, dan terorisme.
 
Untuk itu menjadi penting bagi tim perumus pertanyaan debat yang ditunjuk harus memiliki perspektif gender dan mengejawantahkannya dalam setiap pertanyaan yang diajukan, sehingga respon yang diberikan kandidat juga sesuai arah pertanyaan. Dalam kaitannya dengan tema debat, mulai dari persoalan yang diangkat sampai pada usulan solusi yang ditawarkan kandidat perlu menjangkau sampai pada isu ketimpangan gender yang masih terjadi di Indonesia.
 
Dengan demikian, harapannya debat capres-cawapres nantinya akan memberikan wawasan dan pemahaman yang bernas dan berkualitas kepada masyarakat mengenai rencana aksi yang riil dari program capres cawapres dalam memajukan dan menyejahterakan kehidupan bangsa dan negara tanpa diskriminasi atas dasar apapun.







analisis Lainnya