Analisis
Pilpres 2019, Pesta Demokrasi atau Hoax?

Pilpres 2019, Pesta Demokrasi atau Hoax?


Oleh Firdaus Cahyadi | Kamis, 04 Oktober 2018 12:25 WIB | 194 Views

Baru saja, publik dikejutkan dengan terbongkarnya hoax tentang penganiayaan Ratna Sarumpaet. Sebelum akhirnya mengundurkan diri setelah hoaxnya terbongkar, Ratna Sarumpaet adalah salah satu bagian dari tim pemenangan pasangan capres Prabowo-Sandiaga Uno.

Hoax tentang penganiayaan Ratna Sarumpaet ini sempat heboh di media sosial. Beberapa pendukung pasangan Prabowo-Sandiaga Uno membuat framing bahwa penganiyaan Ratna Sarumpaet terkait dengan aktivitasnya yang selama ini dinilai kritis dan berseberangan dengan pemerintahan Jokowi, yang kebetulan juga menjadi calon presiden di pilpres 2019. 

Bahkan beberapa elite politik dengan jelas mendesak Presiden Jokowi menanggapi aksi pengeroyokan ini. Prabowo sendiri dalam konferensi pers sebelum hoak Ratna Sarumpaet terbongkar menggunakan framing bahwa penganiayaan Ratna Sarumpaet terkait dengan politik.

"Sikap ini adalah ancaman serius terhadap demokrasi, dan ini ironi, sangat ironi, saya diberi hari ini adalah hari kekerasan internasional tapi saya harus sampaikan ini ke publik," lanjut Prabowo Subianto seperti ditulis vivanews.com pada 2 Oktober 2018.

Namun, kasus seperti ini, menurutnya bukanlah yang pertama. Contohnya ada kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Ada juga aksi persekusi terhadap Neno Warisman di sejumlah daerah.

Bahkan salah satu netizen dengan nama akun Teuku Fajri memposting di gorup,RELAWAN PENDUKUNG PRABOWO SANDI 2019 ACEH- KOORWIL RPP2019 ACEH,  menggiring opini bahwa tindakan penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet adalah tindakan PKI. Ia pun mengajak melakukan People Power terhadap pemerintah terkait kasus ini. "Ibu Ratna S di aniaya di Bandung .... .di pastikan dalang actors intelektual dr kubu sebelah nganu planga plongo..yg panik takut kalah..... . .sungguh bejat rezim dajal PKI... Tega menghajar wanita ...usut proses ...jgn aparat berat sebelah .... people power akan bergerak dr rakyat ...," begitu tulisnya pada postingannya di 2 Oktober 2018 pukul 13.06 WIB. 

Hoax yang kemudian dibumbuhi provokasi ini sangat berbahaya. Tahun 2017, kantor LBH Jakarta dikepung massa gara-gara hoax terkait dengan PKI. Dibumbuhinya isu PKI untuk memprovokasi masih ampuh digunakan untuk menghalalkan tindak kekerasan di negeri ini. Selama 32 tahun, rejim Orde Baru selalu melakukan propaganda bahwa PKI itu seperti iblis, sehingga ketika orang atau kelompok sudah diberikan label PKI, mereka bisa diperlakukan seperti tak layaknya manusia. 

Hoax Ratna Sarumpaet ini adalah sebuah fenomena gunung es di musim pilpres 2019. Hoax Ratna Sarumpaet yang kemudian dibongkar adalah hoax yang nampak di permukaan, karena diakui oleh pembuatnya. Masih ada hoax yang tidak nampak di permukaan namun tidak kalah berbahaya bagi masyarakat.  Nah, pertanyaan berikutnya adalah apakah pilpres 2019 akan menjadi pesta demokrasi atau hoax?







analisis Lainnya