Analisis
Kampanye Pilpres 2019 di Media Sosial, Lingkungan Hidup Belum Dianggap Penting

Kampanye Pilpres 2019 di Media Sosial, Lingkungan Hidup Belum Dianggap Penting


Oleh Firdaus Cahyadi | Senin, 15 Oktober 2018 10:42 WIB | 507 Views

Hampir sebulan masa kampanye, namun calon presiden (capres), baik dari kubu 01 dan 02 belum tertarik mengangkat isu lingkungan hidup menjadi kedalam tema kampanye mereka di media sosial. Data yang dikumpulkan Yayasan SatuDunia di media sosial, para tim kampanye dan partai pendukung masing-masing capres, hingga hari ini (15/10) jam 10.29 WIB, belum ada yang mengangkat isu lingkungan hidup dalam kampanye mereka.

Di media sosial, mereka lebih banyak berkampanye tentang isu ekonomi dan demokrasi. Padahal persoalan lingkungan hidup adalah persoalan yang tak terpisahkan dengan kehidupan warga. Kehancuran ekologi berarti kehancuran pula sumber-sumber kehidupan warga.

Seperti ditulis di Mongabay, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat 2.175 kejadian bencana di Indonesia. Dari data itu, 99,08% merupakan bencana ekologis. Bahkan Indonesia pernah mengalami bencana ekologi yang hingga kini belum jelas siapa yang harus bertanggung jawab merehabilitasi kerusakan alamnya. Bencana ekologi itu adalah lumpur Lapindo.

Namun berbagai bencana ekologi itu nampaknya belum menarik bagi para capres untuk mengangkat isu lingkungan hidup dalam kampanye mereka di media sosial. Banyak sebab yang melatarbelakangi mengapa para capres tidak begitu menganggap penting mengangkat isu lingkungan dalam kampanye mereka. Salah satunya mungkin karena para kandidat capres dan pendukung di lingkarannya tidak begitu bersih jejak ekologinya. 

Perkebunan sawit skala luas, tambang dan industri ektraktif lainnya adalah kegiatan yang berpotensi merusak alam. Sepertinya masing-masing kandidat dan pendukung di lingkaran mereka mesih memiliki jejak ekologi di area itu. 

Ekonomi penting, tapi kelestarian alam juga tidak kalah penting. Karena kita masih bisa memilih makanan yang sehat untuk diri kita, namun kita tidak bisa memilih apakah udara yang kita hidup sehat atau tidak.

 







analisis Lainnya