Analisis
Kampanye Capres-Cawapres Masih Gagap Bicara Persoalan Perempuan

Kampanye Capres-Cawapres Masih Gagap Bicara Persoalan Perempuan


Oleh Kalyanamitra | Selasa, 02 April 2019 09:36 WIB | 119 Views

Kurang dari tiga minggu lagi Pemilu akan berlangsung. Berbagai media kampanye dimaksimalkan oleh kedua tim pemenangan untuk meningkatkan elektabilitas capres-cawapres, baik media kampanye yang dikelola oleh tim sukses maupun difasilitasi oleh KPU. Sayangnya, kedua kubu masih belum menunjukan kepekaannya terhadap isu perempuan.
 
Debat capres-cawapres yang diharapkan memberikan edukasi politik bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat para kandidat juga belum menunjukan kualitasnya. Dalam empat putaran debat yang sudah dilakukan, masih sangat minim mengangkat masalah-masalah yang dihadapi oleh perempuan, serta program-program yang ditawarkan yang pro perempuan. Hal ini menjadi kekhawatiran sendiri sebab dalam masa kampanye saja kepentingan perempuan diabaikan, apalagi saat terpilih nanti. Padahal berdasarkan data KPU, jumlah pemilih perempuan sekitar 126 ribu lebih banyak dibandingkan pria.
 
Dalam debat putaran ketiga, yang mempertemukan kedua cawapres beradu gagasan dalam isu pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan budaya juga tidak tajam membidik persoalan dasar perempuan. Padahal tema tersebut sangat dekat dengan isu perempuan karena menyangkut hak-hak dasar perempuan yang sampai saat ini belum sepenuhnya dinikmati oleh perempuan secara adil dan setara.
 
Dalam debat tersebut isu ketenagakerjaan dibahas lebih banyak dibanding isu lainnya. Itupun belum spesifik menawarkan solusi atas persoalan yang banyak dihadapi oleh perempuan dalam dunia kerja seperti berbagai bentuk kekerasan yang dialami pekerja migran, upah yang layak, kekerasan seksual di tempat kerja, dll. Dalam isu pendidikan dan kesehatan juga luput memotret minimnya akses, partisipasi, dan kontrol perempuan terhadap pendidikan dan kesehatan yang dampaknya cukup signifikan pada tingginya angka perkawinan anak, AKI, AKB, stunting, sehingga menyebabkan tingginya angka kemiskinan dan rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
 
Pada isu sosial dan budaya, kedua cawapres masih memandang isu tersebut secara sempit. Padahal persoalan sosial dan budaya seringnya menjadi akar persoalan atas beragam isu sehingga membutuhkan konsep penyelesaian yang komprehensif. Persoalan sosial dan budaya tidak hanya terkait dengan kesenian, namun juga bagaimana menyelesaikan persoalan kesenjangan, ketimpangan, serta ancaman terhadap toleransi dan kerukunan di Indonesia.
 
Dalam debat capres putaran keempat yang mengangkat tema ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional juga melewatkan persoalan menguatnya konservatisme dan radikalisme yang dampaknya dirasakan oleh perempuan. Konflik sosial akibatnya banyaknya diskriminasi dan kekerasan yang dihadapi oleh kelompok minoritas dan perempuan belum dipandang sebagai persoalan serius untuk ditangani. Padahal isu tersebut sangat terkait erat dengan ideologi serta pertahanan dan keamanan karena selain menjadi ancaman bagi ideologi bangsa, kebhinekaan, dan kerukunan juga menjadi hambatan besar dalam pelaksanaan dan pemenuhan hak asasi manusia khususnya hak asasi perempuan.

 







analisis Lainnya