Analisis
​Hilangnya Isu Lingkungan Hidup dalam Iklan Capres di Televisi

​Hilangnya Isu Lingkungan Hidup dalam Iklan Capres di Televisi


Oleh Firdaus Cahyadi | Kamis, 25 April 2019 12:51 WIB | 55 Views

Hilangnya Isu Lingkungan Hidup dalam Iklan Capres di Televisi

Kerusakan ekologi begita nyata terjadi di daratan, udara dan lautan. Namun, itu tidak menjadikan para capres untuk mengungkapkan gagasannya dalam iklan kampanye mereka di media massa, khususnya televisi.

Berdasarkan pantauan di www.iklancapres.id, di televisi, tak satupun dari para capres yang mengungkapkan gagasannya soal lingkungan hidup dalam iklan kampanyenya. Padahal persoalan kerusakan alam adalah persoalan krusial yang sedang terjadi di negeri ini.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat 2.175 kejadian bencana di Indonesia. Dari data itu, 99,08% merupakan bencana ekologis.  Bahkan, negeri pernah mengalami bencana ekologis terbesar di sepenjang sejarah, yaitu semburan lumpur Lapindo. Hingga kini jejak kehancuran alam di Sidoarjo itu masih bisa dilihat dengan mata telanjang.

Hilangnya isu lingkungan hidup dalam konten kampanye capres di televisi seakan menjadi bukti bahwa para capres sesungguhnya tidak memiliki agenda politik untuk mengatasi persoalan krisis ekologi. Di media sosial, isu lingkungan hidup muncul dalam kampanye capres, namun itupun sangat minim. Bahkan bisa dibilang sekedar basa-basi.

Berdasarkan pemantauan SatuDunia (www.iklancapres.id), hingga 10 Desember 2018, baik paslon nomor 01 dan 02, hanya mengangkat isu lingkungan hidup dalam kampanyenya sebanyak 2 kali. 

Seperti biasa, paslon 01 mengklaim keberhasilan kebijakannya dalam mengatasi kebakaran hutan dan perhutanan sosial. Meskipun pada September lalu, luasan lahan yang terbakar karena kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Selatan masih mencapai 1.476 hektare. Sementara di bulan Agustus lalu, ada empat orang meninggal dunia dalam kebakaran hutan dan lahan yang di terjadi di Kalimantan Barat.

Bagaimana dengan paslon nomor 02? Alih-alih mengkritisi kebijakan pemerintah di sektor lingkungan hidup. Paslon nomor 02, justru mengangkat isu lingkungan hidup dengan prespektif ekonomi, bukan ekologis.

Siapapun presidennya, nampaknya rakyat harus mulai bersiap diri untuk lebih keras lagi menyuarakan persoalan krisis ekologi agar di dengar oleh telinga pejabat publik yang telah dipilih rakyat secara langsung itu.

 







analisis Lainnya