Analisis
Menggoreng 'Kalimat Tauhid' untuk Pilpres 2019

Menggoreng 'Kalimat Tauhid' untuk Pilpres 2019


Oleh Firdaus Cahyadi | Senin, 29 Oktober 2018 09:30 WIB | 225 Views

Akhirnya, aksi massa yang mengklaim sebagai aksi bela tauhid, berubah menjadi ajang kampanye 2019 ganti presiden. 

Kejadian ini menjadi salah satu bukti bahwa insiden pembakaran bendera HTI di Jawa Barat telah digoreng sedemikian rupa untuk kepentingan politik pada pemilihan presiden (pilpres) 2019. 

Rentetan upaya menggoreng aksi pembakaran bendera HTI untuk kepentingan pilpres 2019 sebenarnya sudah nampak sejak awal penggiringan opini yang dilakukannya. Pertama, pembakaran bendera HTI digiring sebagai pembakaran bendera tauhid. Bahkan bekas jubir HTI Ismail Yusanto menyatakan HTI--sebelum dibubarkan--tidak memiliki bendera. "Perlu saya tegaskan di sini bahwa yang dibakar itu bukanlah bendera Hizbut Tahrir Indonesia. Hizbut Tahrir Indonesia tidak punya bendera," kata Ismail dalam video yang dia unggah lewat akun Twitter-nya, @ismail_yusanto, Selasa (23/10). 

Padahal menurut data yang dikumpulkan pihak kepolisian, seperti ditulis detik.com, menyebutkan bahwa dari dokumen yang ada sebelum itu dibubarkan polisi sudah mengidentifikasi, HTI, baik dalam simbol di kantor dewan pusat HTI maupun di dalam setiap event kegiatannya mereka menggunakan bendera itu. 

Bukan hanya itu, menurut pembawa bendera yang kemudian dibakar itu sudah mengakui bahwa bendera yang ia bawa adalah bendera HTI. "Uus mengakui itu adalah bendera HTI setelah di interview oleh Banser NU yang mengamankan. Dia (Uus) bilang itu bendera HTI," kata Kabareskrim Polri, Komjen Pol Arief Sulistyanto, di kantornya seperti ditulis oleh portal berita online dream.co.id.

Kedua, setelah menggiring opini bahwa bendera yang dibakar adalah bendera tauhid bukan bendera HTI, digiringlah opini bahwa pembakaran bendera itu terkait dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Bahkan sebuah status facebook pada tanggal 25 Oktober 2018, dari akun yang menamakan dirinya Avu Muhammad Faqih Thobroni  menuliskan bahwa "PEMBAKARAN BENDERA TAUHID, BUKTI KUAT ALASAN UMAT ISLAM SIAP MENANGKAN #PrabowoSandi. BARU 1 PERIODE SUDAH RUSAK APALAGI 2 PERIODE?"

Sebelumnya, seperti ditulis detik.com, pada 23 Oktober 2018, capres No 02, Prabowo menduga aksi pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid itu dilakukan karena kelompok tersebut telah mengetahui akan ada perubahan besar dan perbaikan jika dia terpilih pada Pilpres 2019 kelak. Terlihat sekali begaimana penggiringan opini bahwa pembakaran bendera HTI digunakan untuk kepentingan politik dalam pilpres 2019. 

Bahkan setelah aksi massa yang menamakan dirinya bela tauhid terjadi, di gorup facebook yang menamakan dirinya "2019 Ganti Presiden (@GantiPresident2019)", pada 27 Oktober mengupload sebuah mame dengan menggiring opini bahwa ketika ada bom di gereja, Presiden Jokowi lebih cepat bertindak, namun ketika bendera HTI (yang kemudiandigiring sebagai bendera tauhid) dibakar, Presiden Jokowi pura-pura tidak tahu.

Upaya menggoreng kalimat tauhid untuk kepentingan politik-ekonomi segelintir orang dalam pilpres 2019 sangat berbahaya. Pertama, menggoreng kalimat tauhid itu berpotensi membelah masyarakat dengan isu SARA, seperti yang terjadi pada pilkada DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu. 

Kedua, menggoreng kalimat tauhid untuk kepentingan pilpres 2019 juga berpotensi merendahkan ketinggian dari kalimat tauhid tersebut. Konflik antar umat Islam pun rentan terjadi dalam hal ini.

Pemilihan presiden adalah mekanisme biasa dalam sebuah sistem demokrasi. Tentu kita semua tidak ingin pilpres tersebut menjadi arena konflik horisontal berdasarakan SARA, baik antar agama atau sesama umat Islam sendiri. 
 







analisis Lainnya