Metode Perhitungan

Kampanye yang Dipantau

Program Pemantauan Kampanye Capres 2019 oleh SatuDunia dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama memantau konten kampanye Capres pada masa 1 Oktober 2018 hingga 14 April 2019, yaitu kampanye yang disampaikan di luar media massa. Untuk bagian pertama, SatuDunia terutama memantau konten kampanye capres di akun media sosial resmi tim pemenangan kedua capres.
Bagian kedua memantau konten dan biaya kampanye Capres pada masa 24 Maret 2019 hingga 14 April 2019, yaitu kampanye yang disampaikan lewat iklan di media massa. Untuk bagian kedua, SatuDunia memantau dua jenis media, yaitu televisi dan koran.

Metode Penghitungan Konten di Media Sosial

Observer atau Pemantau SatuDunia akan memantau konten kampanye yang ada di akun media sosial resmi (official account) tim pemenangan setiap Paslon Capres-Cawapres, baik berupa teks, audio, gambar, maupun audio visual. Akun media sosial yang dipantau tidak hanya akun koalisi timses, melainkan juga akun pribadi juru bicara kampanye, sekjen partai pengusung, dan individu-individu yang secara resmi terdaftar di KPU sebagai pengusung paslon.

Jenis media sosial yang dipantau adalah Facebook, Twitter, dan Instagram.

Jumlah akun media sosial yang dipantau kedua paslon sama. Jadi, bila akun media sosial tim Jokowi-Ma’ruf yang dipantau berjumlah 9, makan jumlah akun medsos tim Prabowo-Sandi juga 9. Hal ini dilakukan untuk menjaga prinsip komparasi. Adapun mekanisme pemantauan atau penghitungannya adalah sebagai berikut.

Mekanisme Pemantauan Konten Kampanye di Medsos
1. Observer mengecek postingan pada akun medsos tim paslon dan menentukan isu masyarakat sipil yang terkandung dalam materi postingan tersebut.
2. Observer meng-copy paste teks postingan (bila berupa teks) atau menyimpan (save as) audio, gambar, atau audio visual postingan tersebut.
3. Observer melakukan print-screen/screen shot memotong atau mengambil gambar area postingan tersebut untuk menyertakan data/informasi seputar postingan tersebut, seperti tanggal posting, jumlah like, komentar, ataupun share. File potongan iklan ini dijadikan file verifikasi sewaktu Observer mensubmit data postingan medsos tersebut ke dalam website Iklancapres.
4. Observer mengklik nama capres, daerah (nama kota), nama akun media sosial, dan mengklik konten/isu apa saja yang ada pada postingan tersebut.
5. Dapat dikatakan, 95% input data dilakukan hanya dengan mengklik, tidak mengetik. Hal ini dilakukan untuk memperkecil kemungkinan kesalahan akibat mengetik (nama, jenis isu, dsb).
6. Observer tidak akan dapat mensubmit data kemunculan postingan tersebut tanpa melengkapinya dengan file verifikasi.
7. Satu input data dilengkapi satu file verfikasi (unique) meski materi postingannya sama.
8. Data yang disubmit oleh seorang Observer tidak langsung tayang di website; Koordinator Observer-lah yang menentukan data tersebut tayang atau tidak, setelah mengecek kelengkapan dan validitas data tersebut.
9. Data yang di-publish oleh Koordinator Observer akan otomatis terakumulasi pada subtotal postingan per daerah, per nama akun medsos, per jenis media sosial, nama paslon, dan total postingan gabungan 3 daerah.

Metode Penghitungan Biaya Iklan Kampanye

Untuk menjaga validitas hitungan, SatuDunia melakukan pemantauan in house atau pemantauan mandiri. Prinsip perhitungan dasarnya adalah kemunculan iklan kampanye (di media massa) yang dicocokkan dengan rate card atau price list atau harga resmi yang dikeluarkan oleh setiap media massa.
Mekanismenya adalah sebagai berikut.

Sumber angka biaya iklan kampanye
1. SatuDunia dan mitra SatuDunia mendapatkan rate card (price list) iklan langsung dari kantor telivisi dan koran yang dipantau atau dari kantor agensi iklan.
2. Price list tersebut dimasukkan ke dalam sistem website, satu demi satu. Misalnya, rate card sebuah stasiun televisi atau koran memiliki 25 jenis rate iklan, maka ke-25 rate itu dimasukkan satu per satu.Satuan rate iklan atau biaya pasang iklan inilah yang akan di-klik oleh pemantau kemunculan iklan capres di media massa.
Contoh pada iklan televisi, bila iklan Jokowi muncul saat jam prime time televisi, maka Observer akan memasukkan data kemunculan tersebut ke dalam sistem website dan mengklik rate card jam prime time di televisi tersebut.
Contoh pada iklan koran, bila iklan Jokowi terdapat pada sebuah koran, maka Observer akan melihat dulu letak dan ukuran iklan tersebut, lalu memasukkan data iklan cetak tersebut ke dalam sistem website dan mengklik rate card jam prime time di televisi tersebut.
3. Sebelum mensubmit angka biaya atau rate card tersebut, Observer atau Pemantaun diwajibkan oleh sistem untuk lebih dulu memasukkan data gambar iklan (untuk koran) atau audio visual iklan (untuk televisi) tersebut.
4. Data (plus biaya iklannya) yang sudah dipublikasi akan terakumulasi pada subtotal (per daerah dan per nama media) serta total belanja iklan.
5. Dengan kata lain, total biaya iklan di website ini adalah total belanja iklan capres di ketiga kota. Namun, pengguna umum tetap dapat melihat jumlah belanja iklan dan frekuensi kemunculan iklan setiap capres berdasarkan daerah, jenis iklan, nama media massa, dsb.

Ilustrasi halaman bagi pemantau adalah berikut ini:


http://www.iklancapres.id/medias/methode/gambar1.jpg

Jenis Iklan yang Dipantau

1. Iklan yang dipantau adalah iklan spot (iklan verbal)
2. Observer mengabaikan kemungkinan diskon (yang tidak dicantumkan di rate card)
3. Observer mengabaikan kemungkinan gratis (beriklan khusus bagi pengiklan tertentu)
4. Observer juga memantau konten iklan tersebut yang dikaitkan dengan isu/permasalahan masyarakat sipil (ada 7 isu masyarakat sipil).
5. Observer juga memantau iklan non-spot, misalnya peliputan, pemberitaan, program khusus, features, dan blocking time, namun tidak memasukkan angka biaya iklan.

Waktu dan Durasi Pemantauan terhadap iklan di televisi

1. Setiap stasiun televisi memiliki masa mengudara yang berbeda. Oleh karena  itu, durasi pemantauan terhadap setiap stasiun juga berbeda.
2. Durasi pemantauan paling lama adalah 12 jam per stasiun.
3. Waktu pemantauan dipilih berdasarkan waktu ramainya iklan-iklan kampanye.

Mekanisme Pemantauan

1. Observer memantau rekaman siaran televisi, bukan memantau televisi/radio secara langsung.
2. Observer mencatat kemunculan iklan capres di rekaman televisi
3. Observer memotong atau mengambil video/rekaman radio yang berisi iklan. File potongan iklan ini dijadikan file verifikasi sewaktu Observer mensubmit data biaya beriklan seorang capres.
4. Potongan file iklan dilengkapi rekaman 5 detik sebelum dan 5 detik sesudah materi iklan. Tujuannya untuk menguatkan sifat unique data/file tersebut.

http://www.iklancapres.id/medias/methode/gambar6.jpg


5. Observer mengklik nama capres, daerah (nama kota), nama media, durasi, dan rate/harga iklan yang sudah tersedia di menu dropdown pada website serta mengklik konten/isu apa saja yang ada pada iklan tersebut.
Dapat dikatakan, 95% input data dilakukan hanya dengan mengklik, tidak mengetik. Hal ini dilakukan untuk memperkecil kemungkinan kesalahan akibat mengetik (nama, harga, dsb).
6. Observer tidak akan dapat mensubmit data kemunculan iklan berikut biayanya tanpa melengkapinya dengan file verifikasi (berupa rekaman iklan).
7. Satu input data dilengkapi satu file verfikasi (unique) meski materi iklannya sama.
8. Data yang disubmit oleh seorang Observer tidak langsung tayang di website; Koordinator Observer-lah yang menentukan data tersebut tayang atau tidak, setelah mengecek kelengkapan dan validitas data tersebut.
9. Data yang di-publish oleh Koordinator Observer akan otomatis terakumulasi pada subtotal belanja iklan per daerah, per nama media, per jenis media, dan total belanja iklan gabungan 3 daerah.


http://www.iklancapres.id/medias/methode/gambar3.jpg

Pemantauan terhadap iklan di koran

1. Pemantau akan memantau iklan koran dari versi e-paper dan versi cetak, baik letak maupun ukurannya.
2. Ukuran iklan di luar rate yang ada sistem website akan disamakan dengan ukuran terdekat yang sudah ada di sistem website.
3. Iklan di koran akan di-scan dan soft copy-nya dimasukkan ke dalam sistem website.
4. Iklan yang sama atau muncul berkali-kali di halaman yang berbeda atau hari yang berbeda tetap akan di-scan dan dimasukkan ke dalam sistem. Scan dilakukan juga pada area di sekeliling iklan tersebut untuk menunjukkan sifat unique iklan tersebut. Hal ini diperlukan untuk membuktikan bahwa Pemantau tidak melakukan submit lebih dari sekali data iklan yang sama letak dan tanggalnya.
 
http://www.iklancapres.id/medias/methode/gambar4.jpg


Koordinasi Pemantauan
Kemunculan iklan capres di setiap kota dipantau oleh 8-10 Observer dengan satu orang sebagai Koordinator Observer. Kelima Koordinator Observer ini akan dikoordinasi oleh Partnership Coordinator di Jakarta (SatuDunia).
 

http://www.iklancapres.id/medias/methode/gambar2.jpg