Opini dan Komentar
Kampanye Pilpres 2019, 'Membunuh' Sang Pembawa Pesan di Media Sosial

Kampanye Pilpres 2019, 'Membunuh' Sang Pembawa Pesan di Media Sosial


Oleh Firdaus Cahyadi | Kamis, 01 November 2018 14:05 WIB | 459 Views

'Membunuh' pembawa pesan. Itu mungkin kalimat yang tepat digunakan untuk menggambarkan bagaimana kegaduhan kampanye pilpres 2019. Tentu saja membunuh di sini harus dikasih tanda kutip. Pasalnya, kata membunuh dalam konteks ini tidak membunuh dalam arti membuat orang mati secara fisik. Tapi membunuh agar orang yang membawa pesan itu bungkam, tidak lagi bersuara dan menuliskan opininya terkait pasangan lainnya.

Mau coba? Silahkan anda mengkritik salah satu pasangan dari calon presiden (capres) yang ada, baik pihak Jokowi-Ma'ruf maupun Prbowo-Sandi, di media sosial. Tak perlu menunggu lama para pendukung salah satu pasangan capres yang anda kritik langsung memberikan label kepada anda. Bahkan tak jarang juga memaki anda.

Jika anda mengkritik pasangan Jokowi-Ma'ruf di media sosial, maka tak lama kemudian anda akan mendapatkan label sebagai KAMPRET, tentu label itu disertai berbagai makian yang mengikutinya.

Sementara, bila anda mengkritik pasangan Prabowo-Sandi di media sosial, maka maka tak lama kemudian anda akan mendapatkan label sebagai CEBONG, tentu label itu disertai berbagai makian yang mengikutinya.

Tak peduli apakah anda benar-benar masuk kelompok  KAMPRET atau CEBONG, karena itu memang tidak memerlukan pembuktian. Begitu pula berbagai makian yang menyertai label  KAMPRET atau CEBONG itu, tidak perlu memerlukan pembuktian. Kenapa demikian?

Jawabnya mudah, karena pelabelan KAMPRET atau CEBONG beserta kata-kata makian yang mengikutinya itu memang bukan ditujukan untuk mencari kebenaran. Pelabelan dan kata makian itu ditujukan agar anda diam. Tidak lagi mengkritik salah satu dari kedua pasangan capres itu. Hanya sampai di situ?

Tidak, pelabelan itu juga bertujuan agar pesan kritik yang anda sampaikan tidak dibahas menjadi perdebatan publik di media sosial. Istilah kerennya, mengaburkan persoalan substantif yang muncul dalam pesan itu.

Salah satu contohnya tentu saja adalah kritik dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta atas video timses Prabowo-Sandi yang menyamakan Prabowo dengan Bung Karno (dan juga Jenderal Soedirman) dan Sandiaga Uno dengan Bung Hatta. Dalam sebuah kicauan di akun twitternya, Gustika nampak berang ketika Sandiaga Uno disamakan dengan Bung Hatta, kakeknya. Gustika tak ingin Bung Hatta dan juga Bung Karno menjadi komoditas politik lima tahunan.

Sebuah kritik yang cukup berisi. Bahkan jika ditarik lebih jauh, apa yang diungkapkan Gustika sebenarnya adalah ungkapan kegelisahan anak-anak muda yang melihat kampanye politisi dalam pilpres 2019 tidak menjual gagasan dan idenya untuk Indonesia, tapi justru sibuk mengidentikan pasangannya dengan orang lain yang telah terbukti dalam sejarah memiliki gagasan besar untuk Indonesia. Kampanye yang mencerdaskan yang diinginkan anak muda bukan kampanye pembodohan massal dan penuh dengan kebencian, caci maki serta fitnah.

Namun, alih-alih menerima kritik Gustika dengan lapang dada. Para pendukung pasangan yang dikritik Gustika justru menggunakan strategi Kill the messenger (membunuh si pembawa pesan). Gustika dimaki-maki di media sosial. Bahkan seperti biasa, karena yang dikritik pasangan Prabowo-Sandi, Gustika pun diberi label cebong beserta aneka cacian kepadanya.

Ini sejatinya trik kuno, tapi masih efektif hingga kini. Sejak rejim otoritarian Orde Baru berkuasa, bahkan juga hingga kini, trik ini sering digunakan untuk membungkam protes warga atas kebijakan penguasa, baik penguasa politik ataupun ekonomi. Di era Orde Baru, bagi siapapun yang melencarkan kritik terhadap orde baru segera dicap sebagai PKI atau komunis. Tujuannya jelas, agar apapun yang dikatakan oleh si pengkritik menjadi tidak relevan. Bahkan warisan buruk Orde Baru itu masih dipelihara hingga kini. Aktivis lingkungan hidup di Banyuwangi yang menentang tambang emas Tumpang Pitu juga diberikan label komunis.

Sebulan kampanye pilpres di media sosial memang masih jauh dari kata berkualitas. Akankah fenomena ini terus berlangsung hingga hari 'H' pencoblosan?


Apakah anda memiliki pandangan atau opini yang ingin anda tampilkan di website ini? mari bergabung bersama kami dan tulis opini anda terkait Iklan capres dan kampanye capres.
Kirim Opini Anda





Opini Anda Lainnya