Opini dan Komentar
Kampanye Capres 2019, Saling Tolak Analogi

Kampanye Capres 2019, Saling Tolak Analogi


Oleh Iis Siti Salamah Azzahra | Jum'at, 14 Desember 2018 08:08 WIB | 154 Views

Kampanye Calon Presiden dan Wakil Presiden kali ini memang sangat berbeda bila dibandingkan dengan kampanye-kampanye sebelumnya. Hal ini disebabkan karena peran media begitu dominan dalam memberitakan pernyataan satu kandidat untuk disampaikan kepada publik termasuk kepada kandidat lainnya, media itu tidak hanya bicara media arus utama tetapi juga melalui jejaring sosial. Sayangnya, pemberitaan yang kurang berimbang dan dangkalnya memahami setiap pernyataan yang disampaikan kandidat menjadi makanan sehari-sehari yang kita santap. Salah satunya adalah memaknai sebuah analogi dalam setiap pernyataan kandidat.

Beberapa waktu yang lalu ramai pemberitaan tentang “Tempe setipis ATM”. Jika frase “tempe setipis ATM” dimaknai sebagai sebuah frase denotatif atau memiliki makna yang sebenarnya dan bukan kiasan maka di luar sana mungkin sangat mudah ditemukan tempe yang benar-benar memiliki ketebalan yang nyaris sama dengan ATM. Namun demikian, untuk memaknai “tempe setipis ATM” secara denotatif maka kita harus melihat kalimat sebelum dan sesudahnya untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang arti frasa tersebut. Dalam hal ini, kalimat sebelumnya menunjukkan kekhawatiran Sandi akan kondisi perekonomian yang ada.

Jika pernyataan sandi dipahami sebagai sebuah analogi, tentu keadaan tidak menjadi gaduh seperti yang sudah terjadi. Sayangnya, banyak media yang ikut meramaikan isu tentang tempe dengan mengkait-kaitkan dengan pemberitaan lain yang sebenarnya tidak ada hubungan secara langsung. Aksi Presiden Jokowi yang juga merupakan calon Presiden seperti mendatangi pasar dan mengecek ukuran ATM juga seolah memaknai bahwa tidak ada tempe yang memiliki ukuran seperti ATM, meng-counter pernyataan Sandi sebelumnya.
Di lain sisi, pernyataan Ma’ruf Amin dalam satu kesempatan bahwa orang yang tidak melihat prestasi Presiden Jokowi adalah yang buta dan budek (tuli) juga banyak yang memaknai bahwa pernyataan ini bukan sebuah analogi atau kiasan. Alhasil, Maruf Amin dianggap menyakiti perasaan orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik khususnya yang buta dan tuli.  Kemudian, ramai-ramai dari kubu yang berseberangan memberitakan secara masif tentang “kesalahan” Ma’ruf Amin ini.

Jika pernyataan tentang buta dan tuli dimaknai secara analogi tentu juga tidak akan menjadi polemik. Dalam kiasan, buta dan tuli yang diungkap sebenarnya mengarah kepada sifat seorang manusia yang secara fisik tidak memiliki kekurangan, tetapi memiliki sifat buta untuk melihat sesuatu dan tuli atau tidak mau mendengar terhadap sebuah informasi. Kedua handycap tadi lebih kepada sikap terhadap informasi tentang Presiden Jokowi.

Kampanye Capres 2019 memang terasa lebih panas dengan berbagai isu dan pernyataan yang saling dilontarkan. Namun, jika setiap kandidat dapat memilah mana makna denotatif dan mana sebuah kiasan, maka kampanye akan terasa sangat sejuk. Tapi, begitulah demokrasi kita, sangat pantas memang bila Pilpres sebagai sebuah “Pesta Demokrasi”, karena umumnya pesta itu selalu “ramai”.

Iis Siti Salamah Azzahra
Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia


 


Apakah anda memiliki pandangan atau opini yang ingin anda tampilkan di website ini? mari bergabung bersama kami dan tulis opini anda terkait Iklan capres dan kampanye capres.
Kirim Opini Anda





Opini Anda Lainnya