Opini dan Komentar

Menilai Kepedulian Jokowo dan Prabowo Terhadap Persoalan Ketimpangan Gender


Oleh Resty | Rabu, 20 Februari 2019 12:33 WIB | 38 Views

Pada periode pemilu 2014 lalu, isu perempuan belum menjadi prioritas pembahasan di dalam debat capres-cawapres. Padahal isu gender sangat penting untuk dibicarakan sebab pemberdayaan perempuan merupakan bagian besar dari pembangunan manusia. Oleh karena itu, debat capres dan cawapres seharusnya menjadi momentum bagi para kandidat untuk memberikan perspektif gender dalam visi, misi, dan program yang ditawarkan. Dengan demikian, masyarakat dapat mengetahui keberpihakan para kandidat terhadap isu-isu perempuan seperti tingginya angka perkawinan anak, tingginya angka kematian ibu, kesenjangan upah, dan lain-lain[1].
Dalam Debat Pertama Capres dan Cawapres 2019 kemarin, isu perempuan sempat dibahas dalam segmen pertama yang bertema hukum dan HAM. Jokowi mengkritik inkonsistensi antara misi dan visi Prabowo-Sandi yang menyatakan bahwa setiap kebijakan akan berperspektif gender dan pemberdayaan perempuan namun di dalam strukrur kepengurusan Gerindra sendiri perempuan tidak menempati jabatan-jabatan strategis. Prabowo membenarkan pernyataan Jokowi namun menambahkan bahwa Gerindra pernah memiliki beberapa wakil ketua umum perempuan dan juga memiliki sayap partai bernama Perempuaan Indonesia Raya, serta susunan caleg yang mendekati 40 %.
Dalam debat pertama, dapat dilihat bahwa pihak Jokowi menekankan permasalahan gender dalam hal partisipasi politik perempuan. Selanjutnya Jokowi membandingkan bahwa kepeduliannya terhadap perempuan dapat dilihat dari susunan kabinet yang ia susun dimana terdapat sembilan perempuan yang menempati posisi-posisi stragegis. Selain itu, Jokowi pernah membentuk pansel KPK berjumlah sembilan orang yang semuanya perempuan dan dapat memilih komisioner terbaik. Prabowo lalu balik mengkritik bahwa seharusnya yang dibanggakan bukanlah bahwa Jokowi mengangkat banyak perempuan di posisi strategis. Menurut Prabowo, jumlah partisipasi perempuan memang bisa dijadikan penilaian namun yang lebih penting adalah apakah mereka cakap dan mengeluarkan kebijakan pro-rakyat.
Dalam berbagai kesempatan, pihak Jokowi memang menjadikan jumlah partisipasi politik perempuan sebagai jualan kampanye. Namun sejauh ini, Jokowi nampak luput untuk mengangkat hal terpenting yang menjadi akar dari banyak persoalan gender. Jumlah partisipasi perempuan dalam politik memang sangat penting, namun untuk menyelesaikan persoalan ketimpangan gender, persoalan harus dibahas lebih dari sekedar jumlah perempuan yang duduk di pemerintahan. Sebab persoalan gender yang paling meresahkan justru berada dalam kehidupan sehari-hari, seperti kekerasan terhadap perempuan, pelecahan, perkosaan, aborsi tidak aman, dan sejenisnya.
Dengan demikian, maka persoalan yang lebih penting adalah apakah isu-isu darurat dalam lapisan masyarakat terselesaikan melalui peningkatan partisipasi perempuan. Sebab, tujuan dari keseimbangan antara partisipasi perempuan dan laki-laki dalam politik adalah untuk memastikan bahwa tidak ada ketimpangan gender dalam pengambilan kebijakan yang berpengaruh langsung dalam kehidupan masyarakat.  Oleh karena itu, dalam membahas isu perempuan, pihak Jokowi seharusnya lebih menekankan tentang bagaimana mengarusutamakan isu gender dalam pemerintahan. Walaupun jumlah partisipasi politik perempuan meningkat, namun isu-isu perempuan tidak dibicarakan dan diprioritaskan dalam negosiasi-negosiasi politik, maka ketimpangan gender tidak akan pernah selesai.
Di sisi lain, pihak Prabowo-Sandi lebih menekankan permasalahan perempuan terkait ekonomi, khususnya harga bahan pokok di pasar yang naik dan tidak stabil. Pihak Prabowo berargumen bahwa ekonomi menjadi akar permasalahan dari berbagai isu di masyarakat, termasuk perempuan. Oleh sebab itu, penanganan isu perempuan harus dilakukan melalui perbaikan ekonomi. Hal ini seperti yang disampaikan Netty Prasetyani, Direktur Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi.[2] Namun, persoalan perempuan tidak bisa menjadi persoalan kedua yang diselesaikan melalui persoalan lain. Persoalan perempuan harus diselesaikan secara langsung. Pelecahan dan perkosaan bukanlah persoalan ekonomi melainkan persoalan dominasi kuasa laki-laki yang kokoh dalam masyarakat. Oleh karena itu, fokus penyelesaian masalah seharusnya dimulai dari perosalan budaya patriarki.
Sejauh ini, baik dalam debat maupun berbagai kesempatan lainnya. kedua kandidat masih sangat kurang dalam memberikan detail upaya penyelesaian ketimpangan gender dalam masyarakat. Angka kasus pelecehan, perkosaan, kekerasan terhadap perempuan yang terus meningkat seharusnya menjadi perhatian besar setiap pemerintah berkuasa.[3]Tingginya kasus-kasus ini mencerminkan bahwa tidak semua perempuan mendapatkan hak paling dasar manusia untuk memperoleh rasa aman dan nyaman. Masih sangat banyak perempuan yang merasa tidak nyaman di sekolah, kampus, dan tempat kerja karena berbagai kasus pelecehan yang dialaminya. Sangat banyak pula perempuan yang tidak melaporkan kasus perkosaan yang dialaminya karena merasa takut dengan buruknya perlakuan aparat hukum maupun masyarakat yang masih saja menyalahkan korban (victim blaming). Bahkan dalam beberapa kasus, terdapat korban yang ditekan oleh pejabat dalam institusinya untuk tutup mulut mengani pelecehan yang dialaminya. Para pemimpin seharusnya menangani persoalan-persoalan ini dengan serius. Jika pun kesadaran masyarakat tentang perkosaan dan ketimpangan gender belum tinggi, maka para pemimpin dan calon pemimpinlah yang harus mengedukasi melalui berbagai ruang publik, termasuk dalam kampanye.


[1] http://www.iklancapres.id/analisis/read/29/kalyanamitra-pentingnya-pengarusutamaan-gender-dalam-materi-debat.html 
[2] Disampaikan dalam Mata Najwa bertajuk “Jokowi vs Prabowo, Siapa Peduli Perempuan” pada tanggal 7 November 2018
[3] Data kasus pelecehan dapat dilihat dalam Catatan Tahunan Komnas Perempuan dari tahun ke tahun
 
  1. https://restysopinion.blogspot.com/2019/01/menilai-kepedulian-jokowo-dan-prabowo.html


Apakah anda memiliki pandangan atau opini yang ingin anda tampilkan di website ini? mari bergabung bersama kami dan tulis opini anda terkait Iklan capres dan kampanye capres.
Kirim Opini Anda





Opini Anda Lainnya