Opini dan Komentar

ISU KEBERAGAMAN ANTARA KEPENTINGAN KAMPANYE DAN KE-INDONESIA-AN


Oleh AGUNG SYUHAD | Rabu, 20 Februari 2019 12:38 WIB | 83 Views

Indonesia dikenal dunia sebagai bangsa yang majemuk, negara yang terdiri atas beragam suku bangsa, ras, agama dan budayanya bersatu dalam payung ‘bhinneka tunggal ika’. Perbedaan warna kulit, pemikiran, persepsi dan artikulasi seharusnya menjadi kekuatan bangsa kita, persatuan ditengah perbedaan adalah ciri khas Indonesia sejak dahulu. Apa daya, setiap pergelaran pesta demokrasi 5 tahunan, sentimen ras ini menjadi isu menarik yang dimainkan begitu masif oleh sekelompok orang. Ada sebagian yang mengatakan dirinya paling indonesia sebagian lain tidak, adapula yang mengatakan kulitnya hitam adalah pribumi sedang kulit putih tidak, adapula yang mengatakan mayoritas adalah ‘pemilik’ negara ini sedang minoritas hanyalah ‘tamu’.
Sesempit itukah ke-indonesia-an kita?

          23 September 2018 menjadi hari pertama kampanye Pemilihan umum dan Pilpres 2019 yang dideklarasikan Bersama oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU RI) selaku penyelenggara serta para kontenstan dan para perwakilan partai politik pengusung. Namun, hampir 4 bulan berjalannya kampanye ini memunculkan pertanyaan, sudahkah publik disungguhi informasi yang berkualitas terkait pesta demokrasi 17 april mendatang? Sudahkah publik memahami visi-misi, program dan latar belakang calon? Atau justru selama 4 bulan belakangan ini publik dihadapkan pada informasi-informasi lain yang jauh dari subtansi pemilu itu sendiri.

          Menurut data dari Iklancapres.id melalui situs resminya membuktikan bahwa  keberagaman menjadi salah satu isu yang paling banyak diangkat dimedia sosial. Disatu sisi kemunculan isu itu tidaklah membawa dampak cenderung akan baik namun disisi lainnya isu keberagaman ini ditakutkan akan merusak struktur sosial, fitnah menfitnah serta provokasi. Tidak kita pungkiri bahwa masa-masa kampanye ini banyak cara yang dilakukan kedua kontestan untuk menarik simpati publik dengan berbagai cara, memunculkan isu-isu sensitif sebaiknya tidak dilakukan demi keutuhan bangsa dan negara kita.
          Penulis setuju jika isu sensitif yang diangkat tersebut bersifat subtasial, artinya isu yang diangkat tersebut tidak hanya digunakan untuk kepentingan tertentu tapi lebih kepada mencari solusi terhadap permasalahan bangsa, seperti kemiskinan, ketimpangan dan kesenjangan. Apalagi kita menyadari bahwa Indonesia ini terdiri atas beragam suku bangsa yang memiliki ciri khas tertentu, memanfaatkan kaum mayoritas untuk kepentingan politik adalah kemunafikan apalagi mengarah kepolitik identitas.
          Pengorengan isu-isu keberagaman tersebut harus memiliki rambu-rambu dan tata krama kebangsaan. Jangan sampai karena masa kampanye isu-isu yang dimainkan justru melukai hati saudara-saudara kita yang lain, seperti yang berkembang ditengah masyarakat yaitu‘anti china/tionghoa’. dari amatan penulis dikomunitas, deskriminasi semacam ini telah menimbulkan kecurigaan dan berprasangka ditengah tengah anak bangsa. Saat kita Telusuri kebelakang asal dan usul deskriminasi tersebut hanyalah ada tuduhan dan isu-isu yang dimainkan oleh sekelompok orang. Apalagi pasca ramai-ramainya kasus penghinaan terhadap Al-Quran yang dilakukan oleh mantan gubernur DKI Jakarta, kasus tersebut menggiring persepsi publik tentang leadership dan kredibilitas personal kepada kontestasi isu dan etnis keagamaan. Isu etnis menjadi buah bibir dikalangan masyarakat dan menjadi bahan pembicaraan panas  di kedai-kedai kopi, tempat ibadah bahkan ke sekolah-sekolah menariknya lagi perbincangan hangat itu tidak hanya terjadi diibukota namun sampai ke pelosok tanah air.
          Diera pesatnya perkembangan tekhnologi informasi yang menggerakkan literasi digital tetapi tidak diikuti oleh literasi moral memperparah kondisi bangsa kita. Seharusnya dimasa kampanye, pasangan calon yang sedang ‘bertanding’ ini yang sedang ‘mencuri’ hati rakyat seharusnya mengedepankan politik atau kaidah kampanye yang sehat, KPU RI disaat deklarasi kampanye damai telah menyatakan bahwa masa kampanye harus digunakan untuk menyampaikan visi-misi serta program bukannya menggoreng isu-isu yang merobek-robek struktur sosial dan keberagaman bangsa kita. Apalagi menurut penelitian tidak ada darah asli dinusantara ini, semua kita adalah pendatang dan semua kita yang hidup dibumi khatulistiwa ini adalah Indonesia.
          Ayolah mencerdaskan bangsa sendiri, Indonesia ini terlalu mahal untuk dipertaruhkan demi sekadar kepentingan segelintir kalangan. Dengan berkampanye secara sehat berarti kita telah menunaikan tanggung jawab moril kepada bangsa ini. Kepada pasangan calon presiden dan wakil presiden serta tim suksesnya, rakyat menunggu program-program yang mungkin belum terdengar ditelinga kami.
Ayo kesini, temui kami
Jangan cuma cari sensasi!

#RakyatCerdasMemilih


Apakah anda memiliki pandangan atau opini yang ingin anda tampilkan di website ini? mari bergabung bersama kami dan tulis opini anda terkait Iklan capres dan kampanye capres.
Kirim Opini Anda





Opini Anda Lainnya